How Music Reaches You – PechaKucha Night Jakarta Vol. 32

Jika dulu orang mendengarkan musik melalui gramophone yang dipandang sebagai sebuah simbol kemewahan, kini setiap orang dapat dengan mudahnya mendengarkan musik melalui telpon genggam. Perkembangan teknologi makin memudahkan orang untuk menikmati dan mendistribusikan musik melalui berbagai macam media. Platform musik yang semakin variatif, bermunculannya komunitas musik, hingga maraknya pertunjukan musik independen atau yang diselenggarakan oleh brand, juga menunjukkan bahwa banyak hal telah berubah di ranah musik.

Untuk membahas lebih jauh tentang bagaimana perubahan-perubahan itu, kami mengundang PechaKuchers sekalian untuk mendengarkan presentasi yang akan dibawakan langsung oleh perwakilan komunitas, kurator, dan musisi pada:

  • Hari dan tanggal: Kamis, 14 Desember 2017
  • Tempat: Menara by KIBAR, Jalan Raden Saleh Raya No.46A, Cikini, Menteng, Jakarta Pusat.
  • Waktu: 18:00 WIB – selesai

Halte Transjakarta terdekat dengan lokasi adalah Halte  Kramat, dan stasiun kereta terdekat adalah stasiun Cikini (silakan mengacu ke peta di bawah ini)

PKNJ Vol 32 Map

Kami berharap PechaKucha kali ini dapat menjadi ruang diskusi yang mampu memancing inspirasi dan kreativitas PechaKuchers, sekaligus wadah untuk berjejaring di antara para pelaku dan penikmat musik, khususnya para PechaKuchers semua.

Untuk RSVP silakan mengisi tautan ini: http://bit.ly/pknjvol32

PechaKucha Night Jakarta kali ini didukung oleh Menara by KIBAR dan Seger Tea.

Acara ini GRATIS dan terbuka untuk umum. Follow Twitter @pechakuchajkt atau bisa bergabung dengan Facebook Group PechaKucha Jakarta untuk info terbaru!

 

Advertisements

PechaKucha dan Upaya Antikorupsi

PechaKucha Jakarta mendapatkan undangan yang lain dari biasanya. Bukan dari komunitas, bukan pula dari lembaga swadaya masyarakat. Undangan istimewa kali ini datang dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

IMG_2171

Tim PechaKucha jadi tersangka?

Sandrinichi Justiana, perwakilan dari lembaga antirasuah tersebut, mengundang tim PechaKucha Jakarta menjadi pemateri dalam Diklat dan Sertifikasi Penyuluhan Antikorupsi. Peserta Diklat yang diselenggarakan oleh KPK itu adalah para Widyaiswara, 28 aparatur negara yang terpilih dari seluruh Indonesia. Mereka akan menjadi ujung tombak penyuluh antikorupsi di kementrian dan lembaga masing-masing.

IMG_2187

Mengapa tim PechaKucha Jakarta diajak menjadi pemateri? Sandri mengatakan sudah semestinya para penyuluh antikorupsi memiliki pengetahuan untuk mempresentasikan berbagai hal tentang antikorupsi dengan cara yang lebih menyenangkan. Dia merasa PechaKucha adalah salah satu metode yang tepat.

Kami memulai sesi pelatihan dengan penjelasan tentang PechaKucha, bagaimana cara mengemas ide dalam 20 slide dan tiap slide disampaikan dalam 20 detik. Untuk memperlihatkan secara langsung presentasi a la PechaKucha, kami juga memberikan presentasi tentang tip dan trik presentasi yang baik.

Ketika sesi tanya jawab dibuka setelahnya, awalnya banyak sekali resistensi dari metode baru ini. Para peserta merasa mustahil mengemas pembahasan mengenai peraturan antikorupsi yang rumit, membosankan, dan panjang dalam hanya 6 menit 40 detik.

Kami menjelaskan kiatnya, yakni mencari inti dari peraturan tadi. Dari situ lalu dicari satu kata yang bisa mewakili. Kami memberikan contoh, ketika Ibu Susi Pudjiastuti pertama kali menjabat sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan dan ingin mensosialisasikan peraturan terbaru, beliau memopulerkan satu kata, “tenggelamkan!” Selanjutnya, staf kementerian akan membagikan peraturan tersebut kepada pihak yang berkepentingan agar dapat dipahami.

IMG_2188

Begitu pula presentasi PechaKucha, metode ini seharusnya bukan dilihat sebagai satu-satunya metode presentasi. Sesuatu yang mutlak dipakai. Kombinasi dari presentasi, diskusi, dan pekerjaan rumah yang harus dilakukan sebelumnya adalah kunci bagaimana penyuluhan bisa berhasil. Hal yang sama seperti pemberantasan korupsi; pendidikan, pencegahan dan tindakan hukum adalah tiga bagian penting agar Indonesia bisa bebas korupsi di kemudian hari.

Di sesi berikutnya kami meminta 28 peserta yang terbagi menjadi 6 kelompok tersebut untuk membuat dan mempresentasikan presentasi mereka dengan tema “Pencegahan Korupsi”. Kami memberi mereka waktu 30 menit untuk membuat presentasi dan setelah selesai langsung dilakukan praktik untuk menyampaikannya.

Yang terjadi selanjutnya sama seperti PechaKucha Night Jakarta yang sudah kami lakukan lebih dari 30 kali. Para peserta berhasil membawakan hasil presentasi mereka yang menginspirasi dengan sedikit selingan humor, interaksi, dan tentunya semangat. Para peserta juga mampu membuat desain presentasi yang didominasi oleh gambar, bukan hanya kata-kata.

Kami mengakhiri pelatihan kami dengan beberapa kesimpulan. Pertama, kami akan mengadakan PechaKucha Night Jakarta untuk KPK agar kelak lahir cara-cara kreatif untuk melawan korupsi. Yang kedua, para peserta dari berbagai daerah ternyata sangat bersemangat untuk mengadakan PechaKucha Night di daerah masing-masing. Yang terakhir, kini para peserta mengetahui bahwa ada satu cara lain untuk mengkomunikasikan sesuatu yang kompleks dan membosankan, seperti peraturan antikorupsi, dengan cara yang menyenangkan.

Ringan dan Relevan: Konten Kesukaan Orang Indonesia

Apa resep membuat konten digital yang disukai orang Indonesia? Bagaimana caranya agar sebuah konten viral?

“Ketika membuat konten, ide-ide yang berhubungan dengan kejadian sehari-hari dan budaya itu pasti diingat dan viral,” ujar sutradara Dimas Djay, salah satu pembicara PechaKucha Night Jakarta vol.31 “Like This: The Rise of Content Creators”, pada 17 Oktober 2017.

Pembicara lain, komikus strip Masdimboy, mengaku lebih suka mengangkat cerita-cerita galau atau merespons kejadian yang sedang populer dikemas secara nyeleneh. Pengunjung pada malam itu tertawa dengan lepas ketika mereka menemukan diri mereka pada contoh-contoh konten Masdimboy yang dipresentasikan pada malam itu, mulai dari komik tentang patah hati, permainan kata, hingga video yang mengandung candaan ringan atau “receh”.

Andira dan Kalula, pembicara berikutnya, punya kiat lain. Menurut keduanya, pembuat konten harus konsisten berkarya tanpa meninggalkan jati diri. Sedangkan Emte, illustrator yang juga pembicara malam itu, mengaku tidak masalah jika harus membuat karya berdasarkan permintaan klien, namun ia memiliki ruang sendiri untuk memenuhi idealismenya.

Begitulah kiat-kiat yang disarikan dari materi yang dibagikan oleh para konten creator yang menjadi pembicara pada PechaKucha Night Jakarta vol.31 “Like This: The Rise of Content Creators” yang digelar di coworking space EV Hive Menteng, Jakarta Pusat.

Apa yang dikatakan oleh para pembicara malam itu membuktikan bahwa pengguna media sosial di Indonesia memang senang dengan konten ringan dan lebih suka lagi membagikan konten-konten tersebut di media sosial. Sebagai contoh, pembuat meme digital, @Imandita, pernah memodifikasi foto Presiden Joko Widodo di atas kapal Natuna menjadi poster film. Meme ini viral di media sosial hanya dalam tempo 24 jam.

Dengan besarnya potensi para pembuat konten digital membuat karya yang disukai khalayak itu, perwakilan dari platform konten, Andi Martin dari Kratoon dan Ghina Fianny dari LINE WEBTOON, menilai penting adanya wadah untuk mereka. Kratoon didirikan oleh Martin untuk memberikan kesempatan para pembuat konten melebarkan sayapnya ke ranah lain, seperti membuat merchandise. Sedangkan LINE WEBTOON membiasakan para pembuat komik untuk disiplin memenuhi permintaan pembaca melalui cerita baru setiap minggunya.

Sesi presentasi malam itu dilanjutkan dengan sesi diskusi. Salah seorang pengunjung bertanya bagaimana para pembicara melihat potensi mereka 10 tahun mendatang. Andira memberi contoh seorang artis Vine, TB Putera yang terpaksa berhenti membuat konten khas enam detiknya. Namun ia tidak meninggalkan ciri khasnya, ini berarti kita tidak bisa memperkirakan berapa banyak media sosial yang muncul atau mati nantinya, yang tidak akan hilang adalah ide-ide yang bisa diterima oleh publik.

Acara PechaKucha Night Jakarta Vol 31 sukses terselenggara dengan sambutan hangat dari pengunjung dan mereka yang memantau sosial media. Kami tidak lupa mengucapkan terima kasih atas dukungan EV Hive selaku official venue dan Lawless Burger Bar selaku F&B partner.

Bagi Anda yang tidak sempat hadir pada malam itu, berikut adalah link untuk mengakses presentasi-presentasi pada malam itu.

 

The Rise of Content Creators – PechaKucha Night Jakarta Vol. 31

Poster2 tanpa nama small

Saat menghadiri peringatan Hari Anak Nasional 23 Juli 2017, Presiden Joko Widodo bertanya soal cita-cita pada seorang anak berusia 6 tahun yang dijawab spontan, “Jadi YouTuber, Pak.”

Presiden lalu bertanya lagi, apa alasan anak itu ingin menjadi YouTuber. “Jadi YouTuber itu kalau banyak subscriber-nya, bisa menghasilkan uang,” jawab anak itu yang disambut tawa penonton.

YouTuber adalah sebutan untuk mereka yang membuat dan mengunggah konten video di YouTube. Meski jumlah pengguna aktif YouTube di Indonesia–menurut Google–mencapai sekitar 50 juta orang, tidak diketahui persis berapa jumlah YouTuber di Indonesia.

YouTubers di Indonesia berasal dari berbagai kalangan, mulai dari orang biasa, artis, anak presiden, hingga presiden. Beberapa YouTuber memiliki penghasilan rata-rata puluhan juta rupiah per bulan. Menurut Kompas.com, YouTuber Bayu Skak yang memiliki 1 juta pelanggan, diperkirakan memiliki penghasilan US$ 2,000 atau sekitar Rp26 juta per bulan. Penghasilan yang besar ini membuat banyak anak bercita-cita menjadi YouTuber, seperti anak yang ditanya Jokowi itu.

Bukan hanya menjadi YouTuber yang menjadi cita-cita anak Indonesia. Produsen konten media sosial lain, seperti blogger dan Instagramer, juga merupakan sesuatu yang diidam-idamkan dan diidolakan.

Bagaimana resep menjadi produsen konten yang sukses? Bagaimana membuat konten yang disukai? Untuk membahas tentang kiprah para produsen konten ini, kami mengundang para PechaKuchers hadir di PechaKucha Night Jakarta Vol. 31 “Like This: The Rise of Content Creator” yang akan diadakan pada:

  • Hari dan Tanggal: Selasa, 17 Oktober 2017
  • Tempat : EV Hive D.Lab Menteng– Jalan Riau No.1, Menteng, RT 9 / RW 5, Gondangdia, Berlokasi di belakang Sinarmas Land Plaza, Halte Transjakarta terdekat dengan lokasi adalah Sarinah (silakan mengacu ke peta di bawah ini)
  • Waktu: 18:00 WIB – selesai

IG 1

Kami harapkan PechaKucha kali ini dapat menggugah kreativitas PechaKuchers, mendapatkan gambaran untuk membuat konten yang menarik, dan memberikan ruang untuk bertanya langsung dengan para pembuat konten dan perwakilan dari para penyedia layanan media sosial. Kami juga berharap PechaKucha kali ini dapat menjadi ruang berjejaring bagi para PechaKuchers semua.

Untuk RSVP silakan mengisi tautan ini: http://bit.ly/pknj31

PechaKucha Night Jakarta kali ini didukung oleh EV Hive Jakarta dan Lawless Burgerbar

Acara ini GRATIS dan terbuka untuk umum. Untuk RSVP, Anda bisa melakukannya di tautan ini. Follow Twitter @pechakuchajkt atau bergabung dengan  Facebook Group PechaKucha Jakarta untuk info terbaru!

Ars Longa, Vita Brevis

DSC01005

Karya abadi, hidup tidak, kata filsuf Hippocrates. Seorang pelukis, pematung, atau arsitek, bisa saja meninggal, namun karyanya bertahan sepanjang masa. Leonardo da Vinci dengan lukisan Monalisa; Gaudi dengan gereja Sagrada Familia; Raden Saleh dengan lukisan penangkapan Pangeran Diponegoro; adalah contoh seniman terkemuka yang sudah tutup usia, tetapi karyanya bertahan sampai hari ini.

Internet dan media sosial membantu mengabadikan karya para seniman.  Akses para seniman untuk berpameran juga semakin dimudahkan dengan munculnya berbagai ruang publik atau jenama-jenama brand yang menyediakan tempat berpameran.

Akibatnya, para publik pun makin terbuka kesempatannya untuk menyaksikan, mengapresiasi, dan berinteraksi dengan karya para seniman dengan berbagai cara. Di Instagram, misalnya, biasa kita lihat orang-orang berswafoto di depan karya pelukis terkenal.

Bagaimana para seniman dan kurator melihat fenomena itu adalah topik yang kami angkat di PechaKucha Night Jakarta Volume 30 pada 22 Agustus 2017. Pembicara, seperti Wangsit, Atreyu, Kendra, dan thepopo menyatakan bahwa mereka memang melihat media sosial sangat berperan menyebarkan lebih luas karya mereka, namun mereka juga tak jarang menjadi sasaran serangan audiens yang kurang menyukai karya mereka. Cara mereka menanggapi serangan bermacam-macam. Thepopo memilih cuek dan terus berkarya, sedangkan Atreyu memilih untuk membalas komen negatif dengan memberi “like”.

Para kurator, yakni Nindy, Saf, dan Evelyn juga menggunakan media sosial sebagai alat publikasi. Menurut Nindy, tidak ada jaminan bahwa antusiasme khalayak di media sosial sama dengan di kenyataan. Oleh sebab itu, kata Nindy, seorang kurator harus memiliki jejaring yang kuat dan luas agar mampu mendatangkan lebih banyak tamu ke galeri atau tempat pameran lainnya.

Pada kesempatan berikutnya, Evelyn berbagi pengalaman mengurasi seniman yang menggunakan format 1×1–yang lazim digunakan di Instagram–untuk menempatkan sebuah karya.

Seperti sebelumnya, PechaKucha Night kali ini pun memiliki sesi diskusi yang sangat seru. Para peserta benar-benar ingin mengetahui pandangan para pembicara tentang sebuah kasus yang menimpa salah satu seniman muda di Indonesia. Di antara berbagai pendapat para pembicara, kami rasa Evelyn merumuskannya dengan cukup baik. Dia mengatakan, “Pastikan kamu memiliki visi dan dukungan yang cukup jika kamu ingin menaruh karya kamu ke publik, sehingga kamu dapat mempertahankannya.”

Kami mengharapkan PechaKucha Volume 30 bermanfaat bagi para peserta. Tak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada para pembicara, rekan media, para audiens, BINUS University International selaku Official Venue, dan Volle Kitchen selaku mitra penyelenggara.

Pantau terus Facebook group dan Twitter kami untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai PechaKucha Night berikutnya. Untuk video presentasi, kami sedang dalam proses editing dan akan kami unggah secepatnya.

Terima kasih dan sampai jumpa di PechaKucha berikutnya!

This slideshow requires JavaScript.

Seni Untuk Semua

PechaKucha Night Jakarta hadir kembali. Kali ini tema yang diangkat adalah “PopArt Culture”. Tema ini dipilih, karena belakangan ini karya seni tak hanya bisa dinikmati di ruang pamer khusus, seperti galeri atau museum. Karya seni juga bisa ditemui di ruang-ruang publik, seperti pusat perbelanjaan, hotel, juga tempat-tempat umum yang dipakai sebagai ruang pameran mini.

Fenomena ini mendorong tumbuhnya minat dan apresiasi masyarakat terhadap karya seni, dari sekadar berswafoto di depan sebuah karya, menikmati, atau mengoleksinya. Untuk itu kami mengundang para PechaKuchers hadir di PechaKucha Night Jakarta Vol. 30 PopArt Culture yang akan diadakan pada:

  • Hari dan Tanggal: Selasa, 22 Agustus 2017
  • Tempat: BINUS International University Auditorium, FX Mall F6, Jalan Jenderal Sudirman.
  • Waktu: 18:00 WIB – selesai

Pembicara:

  • Evelyn Huang – Kurator Seni
  • Kendra Ahimsa – Seniman
  • Wangsit Firmantika – Seniman
  • Nin Djani – Kurator Seni dan Perwakilan dari Suar Artspace
  • Safrie Effendi – Art Director Artotel Jakarta
  • The Popoh – Seniman

Di acara yang didukung BINUS International University sebagai Official Venue dan Volle Kitchen sebagai Official Food Partner ini, kami berharap para PechaKuchers akan bertemu dan mendengarkan langsung presentasi para seniman, kurator, perwakilan dari ruang-ruang seni.

Acara ini GRATIS dan terbuka untuk umum. Untuk RSVP anda bisa melakukannya di tautan ini.

Follow Twitter @pechakuchajkt atau bergabung dengan  Facebook Group PechaKucha Jakarta untuk info terbaru!

poster 2

PECHAKUCHA NIGHT JAKARTA VOL.29 “CAMERA LUCIDA”: BERTAHAN DI TENGAH LAUTAN IMAJI

This slideshow requires JavaScript.

Semudah menekan layar, semudah itulah kamu menjadi fotografer. Tanpa sadar, keadaan itu menciptakan sebuah kompetisi yang mengharuskan fotografer untuk mampu menunjukkan keunggulan dan keunikan masing-masing agar tetap relevan dan menonjol dalam industri fotografi masa kini.

Sadar akan fenomena tersebut, PechaKucha Night Jakarta Vol.29 “Camera Lucida” menghadirkan tujuh sosok istimewa dalam dunia fotografi. Ketujuh fotografer ternama dari berbagai genre berbeda tersebut berbagi kiat yang mereka lakukan untuk dapat relevan di ketatnya kompetisi fotografi.

Dimulai dari Jerry Aurum yang memilih melakukan pendekatan kasual dengan para subjek fotonya yang kebanyakan selebritis demi mendapatkan hasil yang personal, Tompi yang menemukan sumber ketenangan baru dalam fotografi analog selain menyanyi dan membedah pasien, Carol yang cermat mengulik sisi rapuh manusia sebagai nilai lebih yang dapat ditonjolkan.

Lain halnya dengan Rony Zakaria yang gigih mengawali karier sebagai fotografer lepas dan berani mencoba semua kesempatan hingga mengantarkan karya-karyanya ke berbagai publikasi internasional, Edy Purnomo yang mengawali kariernya di tahun 1998 yang penuh gejolak dan bertahan hingga hari ini. Ada pula Yoppy Pieter yang peka terhadap isu-isu sosial dan budaya, hingga Advan Matthew yang lebih familiar dengan seni musik namun beralih dan memilih menjadi fotografer fashion.

Mengawali penyelenggaraan PechaKucha di tahun 2017, PechaKucha Night Jakarta sedikit melakukan perombakan format acara sesuai dengan masukan dan saran yang telah dikumpulkan dari PechaKuchers. Kami mengadakan sesi tanya jawab yang memungkinkan PechaKuchers dapat bertanya langsung dan berdiskusi dengan ketujuh pembicara.

Hal ini terbukti efektif karena kami melihat antusiasme PechaKuchers tetap tinggi hingga akhir acara. Kami berharap format ini dapat menambah manfaat dan inspirasi untuk para PechaKuchers.

Terima kasih untuk para pembicara kami, PechaKuchers, rekan media dan BINUS University International. Sampai jumpa di PechaKucha Night Jakarta berikutnya!

—-

Bagi rekan-rekan yang ingin mendapatkan dokumentasi dari PechaKucha Night Vol 29, dapat langsung mengunjungi laman Facebook kami. Kami juga sedang mempersiapkan video presentasi dari para pembicara, dan akan memberikan update terbaru saat sudah selesai.