Ragam Budaya Kita

Topik “Made in Indonesia” yang diangkat pada PechaKucha Night Jakarta Vol. 33, 20 April 2018 membahas tradisi, budaya, dan produk tradisional Indonesia. Tujuh pembicara yang hadir  tidak hanya berbicara mengenai pengalaman mereka serta memberikan alasan kenapa mereka ingin terlibat dalam menjaga warisan bangsa.

Pembicara pertama Bhimanto Suwastoyo dari Wastra Indonesia, komunitas apresiasi kain tradisional,  mengungkapkan keresahan beliau mengenai generasi muda Indonesia yang tidak lagi mengenali dan menghargai produk negeri sendiri.

Melia Winata dari Du’Anyam, sebuah perusahaan sosial yang memproduksi dan mendistribusikan produk anyaman, mengatakan bahwa tujuan Du’Anyam adalah untuk memberdayakan ibu-ibu penganyam. Kebanggaan paling besar dari Du’Anyam adalah ketika mereka telah berhasil menaikkan penghasilan ibu-ibu penganyam sebesar 40%, mempromosikan produk anyaman hingga ke Milan, Itali dan terpilih menjadi official merchandise untuk Asian Games!

31154093_10155666983808299_345653659402502144_o

Selanjutnya ada Cassandra Grant dan Diyan dari Kain Kita, sebuah proyek kolaborasi yang mengumpulkan, mendokumentasikan, dan mempromosikan kain-kain adat di Indonesia. Cass terlibat dalam pemberdayaan perempuan adat sebagai penenun dan Diyan mengajak orang-orang untuk membeli kain tenun tradisional dari sumber-sumber yang etis. Kain Kita juga memberikan latar belakang tentang berbagai kain tradisional Indonesia dan mempelajari bagaimana pembuatannya secara langsung.

Annisa Hendrato yang mewakili Noesa, sebuah studio yang menggabungkan seni, budaya dan alam, dalam bentuk produk, acara, dan publikasi, menceritakan proses pembuatan kain tenun oleh Watubo dan pewarna alami yang dihasilkan dari tumbuhan sekitar Maumere. Ia belajar banyak mengenai pembuatan warna-warna tersebut dan menggunakannya dalam pembuatan produk-produk kekinian yang ditujukan untuk kaum muda, seperti camera strap, cardholder, dan selendang. Selain produk, Annisa juga mengenalkan budaya Maumere lewat acara dan open trip.

31163532_10155666983843299_6836048344075206656_o

Sweta Kartika, seorang komikus profesional, membuat komunitas komik silat Padepokan Ragasukma bersama teman baiknya. Komunitas ini bertujuan untuk tetap mendengungkan dongeng-dongeng pendekar di telinga anak nusantara. Suatu pencapaian luar biasa bagi Padepokan Ragasukma karena telah mempublikasikan 22 judul komik silat dan menggambar ulang 70 karakter untuk komik fiksi terbarunya “Guardians of Majapahit”.

Selanjutnya Dinny Jusuf membahas soal Toraja Melo yang menjadi katalis untuk membantu komunitas penenun dalam meningkatkan kesejahteraan perempuan di Toraja. Dinny ingin karya-karya tenun tetap lestari sehingga beliau mengadakan pelatihan bagi para generasi muda dan mengadakan community-based tourism di mana partisipan dapat belajar menenun di Toraja.

Pembicara terakhir kita Angga Dwimas Sasongko, menyatakan bahwa Indonesia adalah negara yang memproduksi kopi terbanyak keempat di dunia. Kedai Filosofi Kopi pun mencoba melestarikan warisan budaya ini dengan menyajikan kopi-kopi asli Indonesia dan memberikan warna baru di dunia kopi di Indonesia. Angga percaya setiap jenis kopi Indonesia memiliki cerita soal cinta dan kolaborasi.

31180039_10155666986483299_2627735440655908864_o

Semua pembicara sepakat bahwa warisan budaya Indonesia harus dipertahankan. Dalam sesi diskusi, Dinny menjelaskan bahwa untuk dapat menarik generasi muda kembali ke kampung halaman dan menggarap potensi produk tradisional daerah, mereka perlu tahu bahwa produk-produk tersebut dapat dijual di dalam dan luar negeri dan itu merupakan suatu kebanggaan tersendiri. Diyan menambahkan agar kaum muda mau memakai kain tenun dan menjadi advokat untuk memberikan pemahaman kepada yang lain mengenai kain tradisional.

Acara PechaKucha Night Jakarta volume 33 ini diharapkan dapat menginspirasi kita semua untuk berbuat lebih banyak dalam menjaga dan melestarikan budaya Indonesia. Terima kasih kepada para pembicara dan PechaKuchers yang telah menyempatkan waktunya dan pada DBS Live More Society yang telah menjadi sponsor acara ini.

Anda tidak hadir malam itu? Jangan khawatir, berikut tautan untuk video presentasi para pembicara.

Sampai jumpa lagi di PechaKucha Night Jakarta volume 34!

 

 

 

Advertisements

Made in Indonesia – PechaKucha Night Jakarta Vol.33

Indonesia memiliki begitu banyak dan beraneka ragam hasil budaya. Setiap suku dan daerah bahkan menyimpan kekayaan budaya masing-masing dalam bentuk yang berbeda-beda pula. Saking banyaknya, tidak semua orang Indonesia mampu mengenal dan memahami semuanya.

Kurangnya pengetahuan orang Indonesia terhadap budaya daerahnya sendiri terjadi karena berbagai hal. Terkadang, kita tidak memiliki akses untuk mempelajari budaya tersebut, jika akses itu ada terkadang dokumentasinya tidak begitu lengkap.

Untungnya beberapa tahun terakhir, muncul kesadaran dari beberapa orang dan kelompok untuk melestarikan berbagai budaya Indonesia. Salah satunya dengan mengembangkan komunitas-komunitas yang tersebar di beberapa daerah, mendokumentasikannya, dan memberikan akses yang lebih luas kepada masyarakat terhadap berbagai produk budaya .

Pembahasan tentang budaya Indonesia dan upaya pelestariannya adalah topik akan kita angkat pada PechaKucha Night Jakarta Vol. 33. Edisi yang didukung oleh DBS Live More Society akan diadakan pada:

Hari dan tanggal          : Jumat, 20 April 2018

Tempat                        : DBS Tower – Lantai 34, Jalan Prof. Dr. Satrio Kav. 3-5, Karet Kuningan, Jakarta Selatan (silakan mengacu ke peta di bagian bawah post)

Waktu                          : 18:00 WIB – selesai

Yang akan berbagi pada PechaKucha Night Jakarta Vol 33 adalah:

  1. Bhimanto Suwastoyo
  2. Melia Winata
  3. Cassandra Grant & Nurdiyansah
  4. Annisa Hendrato
  5. Sweta Kartika
  6. Dinny Jusuf
  7. Angga Dwimas Sasongko

Kami berharap PechaKucha kali ini dapat menjadi ruang diskusi yang mampu memancing inspirasi dan menambah semangat PechaKuchers dalam melestarikan tradisi Indonesia.

Kami juga ada kuis yang berhadiah salah satu karya dari pembicara kita. Caranya mudah silakan posting di Instagram dan Twitter dan ceritakan momen-momen keren kalian dengan #LiveAwesome dan #PKNJVol33 mulai dari hari ini hingga Jumat, 20 April 2018 pukul 12:00.

Untuk RSVP silakan mengisi tautan ini.

Acara ini GRATIS, terbuka untuk umum, dan didukung sepenuhnya oleh DBS Live More Society. Follow Twitter @pechakuchajkt atau bisa bergabung dengan Facebook Group PechaKucha Jakarta untuk info terbaru!

Terlalu Manis Untuk Dilupakan | PechaKucha Night Jakarta Vol 32

Disrupsi musik digital, bagaimana ekosistem musik Indonesia bertahan?

Industri musik punya dinamikanya sendiri. Meski bisnis rekaman lesu, akses orang kepada lagu-lagu baru tak lagi terbatas oleh rilisan-rilisan fisik, tapi juga pada acara-acara musik yang kini semakin marak. Nada-nada dan lirik lagu yang pernah populer pada zaman lampau juga semakin mudah kita dengar.

Perkembangan yang dinamis ini seolah-olah memutar balikkan keadaan. Jika dulu para penikmat musik harus berusaha susah payah untuk mendengarkan musik, kini mereka dengan mudah memilikinya dalam genggaman. Mereka yang terlibat di ekosistem musik pun didorong untuk semakin kreatif dalam menciptakan konten-konten yang relevan dan segar. Inilah yang jadi pembahasan dalam PechaKucha Night Jakarta vol. 32 pada 14 Desember 2017 di Menara by Kibar.

Para pelaku komunitas musik independen, seperti Xandega Tahajuansya dari Studiorama, Jimi Multhazam dari Thursday Noise, dan oomleo dari RURUradio, sepakat menyatakan bahwa perubahan ini memberikan kesempatan lahirnya komunitas ataupun acara musik lokal yang membawa para pendatang baru.

Kesempatan seperti itu juga dirasakan Danilla Riyadi saat mengawali karir bermusiknya hingga saat ini. Para pendatang baru seperti Danillai tidak dipandang sebagai kompetitor, namun kolaborator untuk menghasilkan karya yang baru, begitu kata Christian Bong dan Ananta Vinnie dari Indomusikgram.

Ridho Hafiedz gitaris grup band legendaris Slank mengakui perlunya adaptasi dari para musisi yang ingin mempertahankan eksistensi. Label musik sudah tidak lagi mendominasi jalur distribusi musik dari kreator kepada para pendengar berkat berkembangnya platform musik online.

Perkembangan ini menjadi celah yang dimanfaatkan oleh music tastemaker seperti Johana May untuk meramu playlist yang dapat dinikmati melalui platform musik yang ada. Dimas Ario, seorang kurator musik bahkan memberikan ide baru untuk menjadikan bunyi dan lagu sebagai bagian dari identitas brand.

Di sesi diskusi, salah seorang penonton bertanya tentang kiat dari para musisi untuk tetap menjaga eksistensi di tengah banyaknya nama-nama dan genre baru yang hadir saat ini.

Menjawab pertanyaan ini, Jimi memilih untuk melahirkan konsep baru dengan menggabungkan seni musik dan seni rupa dalam sebuah eksibisi. Konsep dengan cita rasa berbeda sukses menarik minat khalayak untuk semakin mengenal karya-karyanya.

oomleo mendorong para pelaku musik untuk mandiri dan tidak selalu bergantung sponsor, namun justru membuat karya ataupun acara yang mampu menarik minat sponsor.

PechaKucha Night Jakarta Vol. 32 adalah edisi terakhir pada tahun kemarin. Dari reaksi para Pechakuchers terlihat bahwa ini adalah edisi yang terlalu manis untuk dilupakan. Acara dapat berjalan lancar berkat dukungan dari seluruh pembicara, rekan media, para peserta, Menara by KIBAR selaku official venue, dan Seger Tea selaku mitra penyelenggara.

Pantau terus Facebook Group dan Twitter kami untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai PechaKucha Night berikutnya. Untuk video presentasi, kami sedang dalam proses editing dan akan kami unggah secepatnya.

Terima kasih untuk kebersamaannya selama tahun 2017 dan sampai jumpa di PechaKucha Night Jakarta Vol. 33 di tahun 2018!

How Music Reaches You – PechaKucha Night Jakarta Vol. 32

Jika dulu orang mendengarkan musik melalui gramophone yang dipandang sebagai sebuah simbol kemewahan, kini setiap orang dapat dengan mudahnya mendengarkan musik melalui telpon genggam. Perkembangan teknologi makin memudahkan orang untuk menikmati dan mendistribusikan musik melalui berbagai macam media. Platform musik yang semakin variatif, bermunculannya komunitas musik, hingga maraknya pertunjukan musik independen atau yang diselenggarakan oleh brand, juga menunjukkan bahwa banyak hal telah berubah di ranah musik.

Untuk membahas lebih jauh tentang bagaimana perubahan-perubahan itu, kami mengundang PechaKuchers sekalian untuk mendengarkan presentasi yang akan dibawakan langsung oleh perwakilan komunitas, kurator, dan musisi pada:

  • Hari dan tanggal: Kamis, 14 Desember 2017
  • Tempat: Menara by KIBAR, Jalan Raden Saleh Raya No.46A, Cikini, Menteng, Jakarta Pusat.
  • Waktu: 18:00 WIB – selesai

Halte Transjakarta terdekat dengan lokasi adalah Halte  Kramat, dan stasiun kereta terdekat adalah stasiun Cikini (silakan mengacu ke peta di bawah ini)

PKNJ Vol 32 Map

Kami berharap PechaKucha kali ini dapat menjadi ruang diskusi yang mampu memancing inspirasi dan kreativitas PechaKuchers, sekaligus wadah untuk berjejaring di antara para pelaku dan penikmat musik, khususnya para PechaKuchers semua.

Untuk RSVP silakan mengisi tautan ini: http://bit.ly/pknjvol32

PechaKucha Night Jakarta kali ini didukung oleh Menara by KIBAR dan Seger Tea.

Acara ini GRATIS dan terbuka untuk umum. Follow Twitter @pechakuchajkt atau bisa bergabung dengan Facebook Group PechaKucha Jakarta untuk info terbaru!

 

PechaKucha dan Upaya Antikorupsi

PechaKucha Jakarta mendapatkan undangan yang lain dari biasanya. Bukan dari komunitas, bukan pula dari lembaga swadaya masyarakat. Undangan istimewa kali ini datang dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

IMG_2171

Tim PechaKucha jadi tersangka?

Sandrinichi Justiana, perwakilan dari lembaga antirasuah tersebut, mengundang tim PechaKucha Jakarta menjadi pemateri dalam Diklat dan Sertifikasi Penyuluhan Antikorupsi. Peserta Diklat yang diselenggarakan oleh KPK itu adalah para Widyaiswara, 28 aparatur negara yang terpilih dari seluruh Indonesia. Mereka akan menjadi ujung tombak penyuluh antikorupsi di kementrian dan lembaga masing-masing.

IMG_2187

Mengapa tim PechaKucha Jakarta diajak menjadi pemateri? Sandri mengatakan sudah semestinya para penyuluh antikorupsi memiliki pengetahuan untuk mempresentasikan berbagai hal tentang antikorupsi dengan cara yang lebih menyenangkan. Dia merasa PechaKucha adalah salah satu metode yang tepat.

Kami memulai sesi pelatihan dengan penjelasan tentang PechaKucha, bagaimana cara mengemas ide dalam 20 slide dan tiap slide disampaikan dalam 20 detik. Untuk memperlihatkan secara langsung presentasi a la PechaKucha, kami juga memberikan presentasi tentang tip dan trik presentasi yang baik.

Ketika sesi tanya jawab dibuka setelahnya, awalnya banyak sekali resistensi dari metode baru ini. Para peserta merasa mustahil mengemas pembahasan mengenai peraturan antikorupsi yang rumit, membosankan, dan panjang dalam hanya 6 menit 40 detik.

Kami menjelaskan kiatnya, yakni mencari inti dari peraturan tadi. Dari situ lalu dicari satu kata yang bisa mewakili. Kami memberikan contoh, ketika Ibu Susi Pudjiastuti pertama kali menjabat sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan dan ingin mensosialisasikan peraturan terbaru, beliau memopulerkan satu kata, “tenggelamkan!” Selanjutnya, staf kementerian akan membagikan peraturan tersebut kepada pihak yang berkepentingan agar dapat dipahami.

IMG_2188

Begitu pula presentasi PechaKucha, metode ini seharusnya bukan dilihat sebagai satu-satunya metode presentasi. Sesuatu yang mutlak dipakai. Kombinasi dari presentasi, diskusi, dan pekerjaan rumah yang harus dilakukan sebelumnya adalah kunci bagaimana penyuluhan bisa berhasil. Hal yang sama seperti pemberantasan korupsi; pendidikan, pencegahan dan tindakan hukum adalah tiga bagian penting agar Indonesia bisa bebas korupsi di kemudian hari.

Di sesi berikutnya kami meminta 28 peserta yang terbagi menjadi 6 kelompok tersebut untuk membuat dan mempresentasikan presentasi mereka dengan tema “Pencegahan Korupsi”. Kami memberi mereka waktu 30 menit untuk membuat presentasi dan setelah selesai langsung dilakukan praktik untuk menyampaikannya.

Yang terjadi selanjutnya sama seperti PechaKucha Night Jakarta yang sudah kami lakukan lebih dari 30 kali. Para peserta berhasil membawakan hasil presentasi mereka yang menginspirasi dengan sedikit selingan humor, interaksi, dan tentunya semangat. Para peserta juga mampu membuat desain presentasi yang didominasi oleh gambar, bukan hanya kata-kata.

Kami mengakhiri pelatihan kami dengan beberapa kesimpulan. Pertama, kami akan mengadakan PechaKucha Night Jakarta untuk KPK agar kelak lahir cara-cara kreatif untuk melawan korupsi. Yang kedua, para peserta dari berbagai daerah ternyata sangat bersemangat untuk mengadakan PechaKucha Night di daerah masing-masing. Yang terakhir, kini para peserta mengetahui bahwa ada satu cara lain untuk mengkomunikasikan sesuatu yang kompleks dan membosankan, seperti peraturan antikorupsi, dengan cara yang menyenangkan.

Ringan dan Relevan: Konten Kesukaan Orang Indonesia

Apa resep membuat konten digital yang disukai orang Indonesia? Bagaimana caranya agar sebuah konten viral?

“Ketika membuat konten, ide-ide yang berhubungan dengan kejadian sehari-hari dan budaya itu pasti diingat dan viral,” ujar sutradara Dimas Djay, salah satu pembicara PechaKucha Night Jakarta vol.31 “Like This: The Rise of Content Creators”, pada 17 Oktober 2017.

Pembicara lain, komikus strip Masdimboy, mengaku lebih suka mengangkat cerita-cerita galau atau merespons kejadian yang sedang populer dikemas secara nyeleneh. Pengunjung pada malam itu tertawa dengan lepas ketika mereka menemukan diri mereka pada contoh-contoh konten Masdimboy yang dipresentasikan pada malam itu, mulai dari komik tentang patah hati, permainan kata, hingga video yang mengandung candaan ringan atau “receh”.

Andira dan Kalula, pembicara berikutnya, punya kiat lain. Menurut keduanya, pembuat konten harus konsisten berkarya tanpa meninggalkan jati diri. Sedangkan Emte, illustrator yang juga pembicara malam itu, mengaku tidak masalah jika harus membuat karya berdasarkan permintaan klien, namun ia memiliki ruang sendiri untuk memenuhi idealismenya.

Begitulah kiat-kiat yang disarikan dari materi yang dibagikan oleh para konten creator yang menjadi pembicara pada PechaKucha Night Jakarta vol.31 “Like This: The Rise of Content Creators” yang digelar di coworking space EV Hive Menteng, Jakarta Pusat.

Apa yang dikatakan oleh para pembicara malam itu membuktikan bahwa pengguna media sosial di Indonesia memang senang dengan konten ringan dan lebih suka lagi membagikan konten-konten tersebut di media sosial. Sebagai contoh, pembuat meme digital, @Imandita, pernah memodifikasi foto Presiden Joko Widodo di atas kapal Natuna menjadi poster film. Meme ini viral di media sosial hanya dalam tempo 24 jam.

Dengan besarnya potensi para pembuat konten digital membuat karya yang disukai khalayak itu, perwakilan dari platform konten, Andi Martin dari Kratoon dan Ghina Fianny dari LINE WEBTOON, menilai penting adanya wadah untuk mereka. Kratoon didirikan oleh Martin untuk memberikan kesempatan para pembuat konten melebarkan sayapnya ke ranah lain, seperti membuat merchandise. Sedangkan LINE WEBTOON membiasakan para pembuat komik untuk disiplin memenuhi permintaan pembaca melalui cerita baru setiap minggunya.

Sesi presentasi malam itu dilanjutkan dengan sesi diskusi. Salah seorang pengunjung bertanya bagaimana para pembicara melihat potensi mereka 10 tahun mendatang. Andira memberi contoh seorang artis Vine, TB Putera yang terpaksa berhenti membuat konten khas enam detiknya. Namun ia tidak meninggalkan ciri khasnya, ini berarti kita tidak bisa memperkirakan berapa banyak media sosial yang muncul atau mati nantinya, yang tidak akan hilang adalah ide-ide yang bisa diterima oleh publik.

Acara PechaKucha Night Jakarta Vol 31 sukses terselenggara dengan sambutan hangat dari pengunjung dan mereka yang memantau sosial media. Kami tidak lupa mengucapkan terima kasih atas dukungan EV Hive selaku official venue dan Lawless Burger Bar selaku F&B partner.

Bagi Anda yang tidak sempat hadir pada malam itu, berikut adalah link untuk mengakses presentasi-presentasi pada malam itu.

 

The Rise of Content Creators – PechaKucha Night Jakarta Vol. 31

Poster2 tanpa nama small

Saat menghadiri peringatan Hari Anak Nasional 23 Juli 2017, Presiden Joko Widodo bertanya soal cita-cita pada seorang anak berusia 6 tahun yang dijawab spontan, “Jadi YouTuber, Pak.”

Presiden lalu bertanya lagi, apa alasan anak itu ingin menjadi YouTuber. “Jadi YouTuber itu kalau banyak subscriber-nya, bisa menghasilkan uang,” jawab anak itu yang disambut tawa penonton.

YouTuber adalah sebutan untuk mereka yang membuat dan mengunggah konten video di YouTube. Meski jumlah pengguna aktif YouTube di Indonesia–menurut Google–mencapai sekitar 50 juta orang, tidak diketahui persis berapa jumlah YouTuber di Indonesia.

YouTubers di Indonesia berasal dari berbagai kalangan, mulai dari orang biasa, artis, anak presiden, hingga presiden. Beberapa YouTuber memiliki penghasilan rata-rata puluhan juta rupiah per bulan. Menurut Kompas.com, YouTuber Bayu Skak yang memiliki 1 juta pelanggan, diperkirakan memiliki penghasilan US$ 2,000 atau sekitar Rp26 juta per bulan. Penghasilan yang besar ini membuat banyak anak bercita-cita menjadi YouTuber, seperti anak yang ditanya Jokowi itu.

Bukan hanya menjadi YouTuber yang menjadi cita-cita anak Indonesia. Produsen konten media sosial lain, seperti blogger dan Instagramer, juga merupakan sesuatu yang diidam-idamkan dan diidolakan.

Bagaimana resep menjadi produsen konten yang sukses? Bagaimana membuat konten yang disukai? Untuk membahas tentang kiprah para produsen konten ini, kami mengundang para PechaKuchers hadir di PechaKucha Night Jakarta Vol. 31 “Like This: The Rise of Content Creator” yang akan diadakan pada:

  • Hari dan Tanggal: Selasa, 17 Oktober 2017
  • Tempat : EV Hive D.Lab Menteng– Jalan Riau No.1, Menteng, RT 9 / RW 5, Gondangdia, Berlokasi di belakang Sinarmas Land Plaza, Halte Transjakarta terdekat dengan lokasi adalah Sarinah (silakan mengacu ke peta di bawah ini)
  • Waktu: 18:00 WIB – selesai

IG 1

Kami harapkan PechaKucha kali ini dapat menggugah kreativitas PechaKuchers, mendapatkan gambaran untuk membuat konten yang menarik, dan memberikan ruang untuk bertanya langsung dengan para pembuat konten dan perwakilan dari para penyedia layanan media sosial. Kami juga berharap PechaKucha kali ini dapat menjadi ruang berjejaring bagi para PechaKuchers semua.

Untuk RSVP silakan mengisi tautan ini: http://bit.ly/pknj31

PechaKucha Night Jakarta kali ini didukung oleh EV Hive Jakarta dan Lawless Burgerbar

Acara ini GRATIS dan terbuka untuk umum. Untuk RSVP, Anda bisa melakukannya di tautan ini. Follow Twitter @pechakuchajkt atau bergabung dengan  Facebook Group PechaKucha Jakarta untuk info terbaru!