Terlalu Manis Untuk Dilupakan | PechaKucha Night Jakarta Vol 32

Disrupsi musik digital, bagaimana ekosistem musik Indonesia bertahan?

Industri musik punya dinamikanya sendiri. Meski bisnis rekaman lesu, akses orang kepada lagu-lagu baru tak lagi terbatas oleh rilisan-rilisan fisik, tapi juga pada acara-acara musik yang kini semakin marak. Nada-nada dan lirik lagu yang pernah populer pada zaman lampau juga semakin mudah kita dengar.

Perkembangan yang dinamis ini seolah-olah memutar balikkan keadaan. Jika dulu para penikmat musik harus berusaha susah payah untuk mendengarkan musik, kini mereka dengan mudah memilikinya dalam genggaman. Mereka yang terlibat di ekosistem musik pun didorong untuk semakin kreatif dalam menciptakan konten-konten yang relevan dan segar. Inilah yang jadi pembahasan dalam PechaKucha Night Jakarta vol. 32 pada 14 Desember 2017 di Menara by Kibar.

Para pelaku komunitas musik independen, seperti Xandega Tahajuansya dari Studiorama, Jimi Multhazam dari Thursday Noise, dan oomleo dari RURUradio, sepakat menyatakan bahwa perubahan ini memberikan kesempatan lahirnya komunitas ataupun acara musik lokal yang membawa para pendatang baru.

Kesempatan seperti itu juga dirasakan Danilla Riyadi saat mengawali karir bermusiknya hingga saat ini. Para pendatang baru seperti Danillai tidak dipandang sebagai kompetitor, namun kolaborator untuk menghasilkan karya yang baru, begitu kata Christian Bong dan Ananta Vinnie dari Indomusikgram.

Ridho Hafiedz gitaris grup band legendaris Slank mengakui perlunya adaptasi dari para musisi yang ingin mempertahankan eksistensi. Label musik sudah tidak lagi mendominasi jalur distribusi musik dari kreator kepada para pendengar berkat berkembangnya platform musik online.

Perkembangan ini menjadi celah yang dimanfaatkan oleh music tastemaker seperti Johana May untuk meramu playlist yang dapat dinikmati melalui platform musik yang ada. Dimas Ario, seorang kurator musik bahkan memberikan ide baru untuk menjadikan bunyi dan lagu sebagai bagian dari identitas brand.

Di sesi diskusi, salah seorang penonton bertanya tentang kiat dari para musisi untuk tetap menjaga eksistensi di tengah banyaknya nama-nama dan genre baru yang hadir saat ini.

Menjawab pertanyaan ini, Jimi memilih untuk melahirkan konsep baru dengan menggabungkan seni musik dan seni rupa dalam sebuah eksibisi. Konsep dengan cita rasa berbeda sukses menarik minat khalayak untuk semakin mengenal karya-karyanya.

oomleo mendorong para pelaku musik untuk mandiri dan tidak selalu bergantung sponsor, namun justru membuat karya ataupun acara yang mampu menarik minat sponsor.

PechaKucha Night Jakarta Vol. 32 adalah edisi terakhir pada tahun kemarin. Dari reaksi para Pechakuchers terlihat bahwa ini adalah edisi yang terlalu manis untuk dilupakan. Acara dapat berjalan lancar berkat dukungan dari seluruh pembicara, rekan media, para peserta, Menara by KIBAR selaku official venue, dan Seger Tea selaku mitra penyelenggara.

Pantau terus Facebook Group dan Twitter kami untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai PechaKucha Night berikutnya. Untuk video presentasi, kami sedang dalam proses editing dan akan kami unggah secepatnya.

Terima kasih untuk kebersamaannya selama tahun 2017 dan sampai jumpa di PechaKucha Night Jakarta Vol. 33 di tahun 2018!

Advertisements

Pecha Kucha Night Jakarta Vol. 27 | Better Together

“Kita bisa saja haha hihi sendirian saja di rumah, tapi apa asiknya? Mendingan haha – hihi sendirian atau, punya temen-temen buat haha hihi bersama?” – Aldo Khalid, Founder Order 66

Sebelas komunitas berbagi cerita dan pengalaman mereka di Pecha Kucha Vol. 27 yang diadakan pada tanggal 27 Oktober 2016. Di tengah maraknya komunitas online, kesebelas komunitas yang hadir malam itu memberikan sebuah ruang alternatif untuk berinteraksi langsung, suatu hal yang sangat penting terutama di kota besar seperti Jakarta. Dengan penuh semangat, seluruh komunitas ini berbagi cerita tentang kegiatan dan kesempatan untuk pengembangan diri.

Berikut adalah ringkasan dari presentasi di Pecha Kucha Night Vol. 27

  • Rindradana, founder dari Abuget, menceritakan tentang kesukaannya bermain game yang selalu dianggap remeh oleh orang-orang. Melalui komunitas game Abuget, ia membuat satu wadah untuk para pecinta game agardapat terus bermain di luar kegiatan sehari-hari. Tidak hanya berkumpul bersama, Abuget juga beberapa kali mengadakan perhelatan kompetisi internal hingga mengikuti kompetisi bertaraf internasional.
  • Yusuf Arief, founder dan sekretaris jendral KUTU (Ketika Usia Tak jadi Urusan) Community, menceritakan tentang komunitas skuter ini. KUTU Community terbuka untuk siapapun dari segala usia layak berkendara dan jenis motor skuter apa pun. Komunitas ini berdiri atas dasar kepedulian mereka akan tingginya angka kecelakaan pengendara motor dengan melaksanakan kegiatan edukatif tentang berkendara aman bagi
  • Agus Hasanudin, ketua dan pendiri Komunitas Topi Bambu, bercerita tentang bagaimana komunitasnya membantu pengembangan ekonomi kreatif berbahan dasar bambu di daerah Tangerang. Topi Bambu juga memberikan pelatihan untuk masyarakat dan sekolah untuk membuat kerajinan bambu seperti topi, anyaman dan tas.
  • Amelia Callista adalah founder dari Girls To Go Jakarta yang merupakan komunitas olahraga untuk perempuan. Melalui berbagai kegiatan olahraga, Amel dan rekan-rekannya memberikan inspirasi dan motivasi bahwa perempuan untuk terus berolahraga karena perempuan memiliki kemampuan yang setara dan mampu berkompetisi di bidang yang biasanya didominasi oleh laki-laki.
  • Shelly Ramli, founder dari Zephyr Corgi, bercerita tentang komunitas pecinta anjing jenis Welsh Corgi. Berawal dari kesukaannya terhadap jenis anjing ras ini, ia mengajak pecinta anjing Corgi lainnya untuk berkumpul dalam acara-acara dog show atau sekadar bertukar cerita dalam kegiatan fun seperti jalan-jalan pagi.
  • Erwin dan Fitri dari Kaligrafina berbagi cerita mereka akan perkembangan kaligrafi dan lettering di Indonesia. Tren kaligrafi yang semakin marak mendasari kegiatan mereka untuk memberi edukasi menulis kaligrafi bagi pemula dan sharing session dari para penggiatnya.
  • Indra Pratama dari Komunitas Aleut yang berbasis di Bandung bercerita tentang komunitasnya yang menjadi wadah belajar sejarah dan pelestarian budaya. Kegiatan mereka seperti mengunjungi situs-situs budaya yang kurang dikenal publik dengan berjalan kaki. Selain di Bandung, Indra juga mendirikan komunitas serupa bernama Ngopi Jakarta (NgoJak).
  • Maesy Ang dan Teddy Kusuma, co-founder dari POST Bookshop di Pasar Santa menceritakan tentang toko bukunya yang menyediakan buku dari penulis dan penerbit independen yang sulit ditemukan di toko-toko buku besar, namun memiliki kualitas yang tidak kalah bagusnya. Mereka rutin mengadakan diskusi seputar buku dan seni bersama para penulis dan penerbit buku independen.
  • Aria Dwipa, founder Denger Bareng yang membentuk komunitas ini atas dasar kecintaannya pada musik. Di saat orang-orang mulai menjadikan musik sebagai pendamping kegiatan, ia membuat wadah untuk mengajak orang-orang mengapresiasi musik dengan mendengarkan musik lintas zaman bersama-sama.
  • Farah Mauludynna, founder #BalikLagikeDapur bercerita tentang pentingnya pola hidup sehat melalui clean eating. Maraknya penggunaan bahan pengawet mendorong Dynna untuk mengajak orang-orang kembali memasak. Menurut wanita yang akrab dipanggil Teh Dynna ini, memasak dapat meningkatkan pola hidup sehat dan juga melepas stres.
  • Aldo Khalid, founder dari Order 66,bercerita tentang komunitas pecinta Star Wars. Bersama Order 66, Aldo berpartisipasi dalam berbagai kegiatan seperti Bandung Lights Festival,bahkan sampai turut berpartisipasi dalam konser orkestra bersama Addie MS. Untuk lebih meramaikan kegiatan komunitasnya, Aldo pun mendirikan sebuah perusahaan yang bernama Sinar Saber yang memproduksi replika dari senjata Jedi tersebut.

Berikut adalah beberapa foto dokumentasi dari Pecha Kucha Night Jakarta Vol. 27, lebih lengkapnya foto dokumentasi tersebut dapat diakses di laman Facebook kami di sini

This slideshow requires JavaScript.

Kami ingin berterima kasih kepada ESTUBIZI Co-Working Space selaku partner venue Pecha Kucha Night Jakarta Vol. 27, kepada seluruh pembicara yang sudah berbagi pengalaman dan melakukan showcase, dan tentunya kepada para hadirin yang datang di tengah hujan gerimis yang melanda Jakarta.

Tidak ingin tertinggal event Pecha Kucha Night Jakarta berikutnya? Ikuti terus kabar terbarunya di akun Twitter @pechakuchajkt.

Sampai jumpa di edisi Pecha Kucha Night Jakarta Vol 28 di bulan Desember 2016!

[EVENT REPORT] Pecha Kucha Night Jakarta Vol.19 MIXTAPE

Pergeseran teknologi di industri musik menyebabkan perubahan besar-besaran di proses penciptaan/reproduksi, pemasaran hingga cara orang menikmati musik. Kurang lebih hal tersebut yang diangkat Robin Malau, peraih Young International Music Entrepreneur dari British Council tahun 2006, di Pecha Kucha Night Jakarta Vol.19 MIXTAPE, Selasa (23/9) lalu. Tidak hanya Robin, para pembicara lainnya adalah sosok-sosok penggiat musik yang juga menyadari bahwa diperlukan proses adaptasi sekreatif mungkin dalam melakukan pendekatan baru di industri musik. Duo Rudyanto dan Aldy Fauzal, misalnya, membentuk platform online radio dengan semangat grassroot atas ketidakpuasan mereka berdua terhadap media musik yang ada. Dwika Putra memfasilitasi para musisi akustik yang membutuhkan panggung lewat komunitas AkustikAsik. Iman Fattah, seorang sound designer, memaparkan pentingnya mengenal perbedaan makna ‘Listen‘ dan ‘Hear‘. Intan Anggita mengejar passion-nya di dunia musik menggunakan media sosial serta berhasil menghidupkan suasana lantai atas Pasar Santa yang sudah bertahun-tahun mati suri lewat toko vinyl-nya, Sub-Store. “Ketergerakan organik tidak memiliki pola khusus selain semangat yang tulus,” ujar Intan dalam salah satu slide presentasinya.
Indra Aziz, pelatih vokal profesional yang reputasinya sudah tidak diragukan lagi, menggugah para penonton yang hadir malam itu dengan mengajak mereka bernyanyi dengan iringan teknik beatbox.

Berikut rangkuman dokumentasi yang berhasil diabadikan dari Pecha Kucha Night Jakarta Vol.19:

Continue reading

Mengulik Musik di Pecha Kucha Night Vol.19 MIXTAPE: Shuffling Creativity with Music

Indonesia adalah negara di mana musik mengakar dengan kuat dan sudah terbukti lewat talenta musik yang berlimpah. Selain membangun fondasi seni dan budaya, Indonesia memiliki potensi pasar yang besar untuk industri musik, tidak hanya di pasar lokal namun hingga ke tingkat regional. Kemelut ekosistem industri musik Indonesia serta pesatnya perkembangan teknologi yang mengubah wajah industri musik secara global tidak mematahkan semangat roda pergerakan musik lokal untuk terus bergulir. Hal ini terbukti dengan lahirnya berbagai inisiatif, kontribusi dan kreativitas yang mengekspresikan kecintaan terhadap musik, baik yang dilakukan secara individu maupun kolektif. Edisi khusus musik di Pecha Kucha Night Jakarta kali ini akan menampilkan semangat para penggiat musik dari berbagai perspektif baik itu dari pelaku seni, pengamat industri, edukator, serta unsur pendukung seperti manajemen, label, radio, hingga penggemar; yang diharapkan akan menginspirasi masyarakat untuk membangun interaksi dan turut berkontribusi dalam memajukan industri musik lokal. PK Vol 19 MIXTAPE poster

List of Speakers:
1. Rudyanto & Aldy Fauzal – (Berisik Radio)
2. Yulius Iskandar (Bottlesmoker Manager)
3. Anitha Silvia (Indonesian Netlabel Union)
4. Indra Aziz (VokalPlus)
5. Dwika Putra (AkustikAsik)
6. Ananda Suryo & Herald Reynaldo (Sounds From the Corner)
7. Sarah Glandosch (IVY League Music)
8. Hendry Halim (GitarisINA community)
9. Iman Fattah (Sound Designer & Music Producer)
10. Intan Anggita (Music Writer/Activist, Sub-Store owner)
11. Robin Malau (Musikator)
12. Muhammad Amrullah (KojekRapBetawi)

Selasa, 23 September 2014 | 7.00-9.30 PM
Es Teler 77 Adityawarman
Jl. Aditywarman No. 61, Jakarta Selatan
GRATIS dan terbuka untuk umum

Follow @pechakuchajkt untuk info terbaru!