Ars Longa, Vita Brevis

DSC01005

Karya abadi, hidup tidak, kata filsuf Hippocrates. Seorang pelukis, pematung, atau arsitek, bisa saja meninggal, namun karyanya bertahan sepanjang masa. Leonardo da Vinci dengan lukisan Monalisa; Gaudi dengan gereja Sagrada Familia; Raden Saleh dengan lukisan penangkapan Pangeran Diponegoro; adalah contoh seniman terkemuka yang sudah tutup usia, tetapi karyanya bertahan sampai hari ini.

Internet dan media sosial membantu mengabadikan karya para seniman.  Akses para seniman untuk berpameran juga semakin dimudahkan dengan munculnya berbagai ruang publik atau jenama-jenama brand yang menyediakan tempat berpameran.

Akibatnya, para publik pun makin terbuka kesempatannya untuk menyaksikan, mengapresiasi, dan berinteraksi dengan karya para seniman dengan berbagai cara. Di Instagram, misalnya, biasa kita lihat orang-orang berswafoto di depan karya pelukis terkenal.

Bagaimana para seniman dan kurator melihat fenomena itu adalah topik yang kami angkat di PechaKucha Night Jakarta Volume 30 pada 22 Agustus 2017. Pembicara, seperti Wangsit, Atreyu, Kendra, dan thepopo menyatakan bahwa mereka memang melihat media sosial sangat berperan menyebarkan lebih luas karya mereka, namun mereka juga tak jarang menjadi sasaran serangan audiens yang kurang menyukai karya mereka. Cara mereka menanggapi serangan bermacam-macam. Thepopo memilih cuek dan terus berkarya, sedangkan Atreyu memilih untuk membalas komen negatif dengan memberi “like”.

Para kurator, yakni Nindy, Saf, dan Evelyn juga menggunakan media sosial sebagai alat publikasi. Menurut Nindy, tidak ada jaminan bahwa antusiasme khalayak di media sosial sama dengan di kenyataan. Oleh sebab itu, kata Nindy, seorang kurator harus memiliki jejaring yang kuat dan luas agar mampu mendatangkan lebih banyak tamu ke galeri atau tempat pameran lainnya.

Pada kesempatan berikutnya, Evelyn berbagi pengalaman mengurasi seniman yang menggunakan format 1×1–yang lazim digunakan di Instagram–untuk menempatkan sebuah karya.

Seperti sebelumnya, PechaKucha Night kali ini pun memiliki sesi diskusi yang sangat seru. Para peserta benar-benar ingin mengetahui pandangan para pembicara tentang sebuah kasus yang menimpa salah satu seniman muda di Indonesia. Di antara berbagai pendapat para pembicara, kami rasa Evelyn merumuskannya dengan cukup baik. Dia mengatakan, “Pastikan kamu memiliki visi dan dukungan yang cukup jika kamu ingin menaruh karya kamu ke publik, sehingga kamu dapat mempertahankannya.”

Kami mengharapkan PechaKucha Volume 30 bermanfaat bagi para peserta. Tak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada para pembicara, rekan media, para audiens, BINUS University International selaku Official Venue, dan Volle Kitchen selaku mitra penyelenggara.

Pantau terus Facebook group dan Twitter kami untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai PechaKucha Night berikutnya. Untuk video presentasi, kami sedang dalam proses editing dan akan kami unggah secepatnya.

Terima kasih dan sampai jumpa di PechaKucha berikutnya!

This slideshow requires JavaScript.

Advertisements

Pecha Kucha Night Jakarta Vol. 27 | Better Together

“Kita bisa saja haha hihi sendirian saja di rumah, tapi apa asiknya? Mendingan haha – hihi sendirian atau, punya temen-temen buat haha hihi bersama?” – Aldo Khalid, Founder Order 66

Sebelas komunitas berbagi cerita dan pengalaman mereka di Pecha Kucha Vol. 27 yang diadakan pada tanggal 27 Oktober 2016. Di tengah maraknya komunitas online, kesebelas komunitas yang hadir malam itu memberikan sebuah ruang alternatif untuk berinteraksi langsung, suatu hal yang sangat penting terutama di kota besar seperti Jakarta. Dengan penuh semangat, seluruh komunitas ini berbagi cerita tentang kegiatan dan kesempatan untuk pengembangan diri.

Berikut adalah ringkasan dari presentasi di Pecha Kucha Night Vol. 27

  • Rindradana, founder dari Abuget, menceritakan tentang kesukaannya bermain game yang selalu dianggap remeh oleh orang-orang. Melalui komunitas game Abuget, ia membuat satu wadah untuk para pecinta game agardapat terus bermain di luar kegiatan sehari-hari. Tidak hanya berkumpul bersama, Abuget juga beberapa kali mengadakan perhelatan kompetisi internal hingga mengikuti kompetisi bertaraf internasional.
  • Yusuf Arief, founder dan sekretaris jendral KUTU (Ketika Usia Tak jadi Urusan) Community, menceritakan tentang komunitas skuter ini. KUTU Community terbuka untuk siapapun dari segala usia layak berkendara dan jenis motor skuter apa pun. Komunitas ini berdiri atas dasar kepedulian mereka akan tingginya angka kecelakaan pengendara motor dengan melaksanakan kegiatan edukatif tentang berkendara aman bagi
  • Agus Hasanudin, ketua dan pendiri Komunitas Topi Bambu, bercerita tentang bagaimana komunitasnya membantu pengembangan ekonomi kreatif berbahan dasar bambu di daerah Tangerang. Topi Bambu juga memberikan pelatihan untuk masyarakat dan sekolah untuk membuat kerajinan bambu seperti topi, anyaman dan tas.
  • Amelia Callista adalah founder dari Girls To Go Jakarta yang merupakan komunitas olahraga untuk perempuan. Melalui berbagai kegiatan olahraga, Amel dan rekan-rekannya memberikan inspirasi dan motivasi bahwa perempuan untuk terus berolahraga karena perempuan memiliki kemampuan yang setara dan mampu berkompetisi di bidang yang biasanya didominasi oleh laki-laki.
  • Shelly Ramli, founder dari Zephyr Corgi, bercerita tentang komunitas pecinta anjing jenis Welsh Corgi. Berawal dari kesukaannya terhadap jenis anjing ras ini, ia mengajak pecinta anjing Corgi lainnya untuk berkumpul dalam acara-acara dog show atau sekadar bertukar cerita dalam kegiatan fun seperti jalan-jalan pagi.
  • Erwin dan Fitri dari Kaligrafina berbagi cerita mereka akan perkembangan kaligrafi dan lettering di Indonesia. Tren kaligrafi yang semakin marak mendasari kegiatan mereka untuk memberi edukasi menulis kaligrafi bagi pemula dan sharing session dari para penggiatnya.
  • Indra Pratama dari Komunitas Aleut yang berbasis di Bandung bercerita tentang komunitasnya yang menjadi wadah belajar sejarah dan pelestarian budaya. Kegiatan mereka seperti mengunjungi situs-situs budaya yang kurang dikenal publik dengan berjalan kaki. Selain di Bandung, Indra juga mendirikan komunitas serupa bernama Ngopi Jakarta (NgoJak).
  • Maesy Ang dan Teddy Kusuma, co-founder dari POST Bookshop di Pasar Santa menceritakan tentang toko bukunya yang menyediakan buku dari penulis dan penerbit independen yang sulit ditemukan di toko-toko buku besar, namun memiliki kualitas yang tidak kalah bagusnya. Mereka rutin mengadakan diskusi seputar buku dan seni bersama para penulis dan penerbit buku independen.
  • Aria Dwipa, founder Denger Bareng yang membentuk komunitas ini atas dasar kecintaannya pada musik. Di saat orang-orang mulai menjadikan musik sebagai pendamping kegiatan, ia membuat wadah untuk mengajak orang-orang mengapresiasi musik dengan mendengarkan musik lintas zaman bersama-sama.
  • Farah Mauludynna, founder #BalikLagikeDapur bercerita tentang pentingnya pola hidup sehat melalui clean eating. Maraknya penggunaan bahan pengawet mendorong Dynna untuk mengajak orang-orang kembali memasak. Menurut wanita yang akrab dipanggil Teh Dynna ini, memasak dapat meningkatkan pola hidup sehat dan juga melepas stres.
  • Aldo Khalid, founder dari Order 66,bercerita tentang komunitas pecinta Star Wars. Bersama Order 66, Aldo berpartisipasi dalam berbagai kegiatan seperti Bandung Lights Festival,bahkan sampai turut berpartisipasi dalam konser orkestra bersama Addie MS. Untuk lebih meramaikan kegiatan komunitasnya, Aldo pun mendirikan sebuah perusahaan yang bernama Sinar Saber yang memproduksi replika dari senjata Jedi tersebut.

Berikut adalah beberapa foto dokumentasi dari Pecha Kucha Night Jakarta Vol. 27, lebih lengkapnya foto dokumentasi tersebut dapat diakses di laman Facebook kami di sini

This slideshow requires JavaScript.

Kami ingin berterima kasih kepada ESTUBIZI Co-Working Space selaku partner venue Pecha Kucha Night Jakarta Vol. 27, kepada seluruh pembicara yang sudah berbagi pengalaman dan melakukan showcase, dan tentunya kepada para hadirin yang datang di tengah hujan gerimis yang melanda Jakarta.

Tidak ingin tertinggal event Pecha Kucha Night Jakarta berikutnya? Ikuti terus kabar terbarunya di akun Twitter @pechakuchajkt.

Sampai jumpa di edisi Pecha Kucha Night Jakarta Vol 28 di bulan Desember 2016!

Pecha Kucha Jakarta Vol. 10 returns!

Pecha Kucha kembali diselenggarakan! Tidak terasa, Pecha Kucha Jakarta telah mencapai volume yang ke-10. Dengan line-up pembicara yang eklektik, kali ini Pecha Kucha Jakarta akan menawarkan kreativitas tanpa batas bagi para Pecha Kuchers. Berikut adalah daftar pembicara yang sudah dikurasi oleh tim Pecha Kucha Jakarta:

1. Anton Ismael – Photography

2. Ndoro Kakung – Instagram

3. Tony Wahid – Food Photography

4. Nucil – DeviantArt Indonesia

5. Indo Runners

6. Meizan D. Nataadiningrat – Keuken Bandung

7. Isha Hening – Visual Jockey

8. Lala Bohang – Illustration Art

9. Ary Wibowo – Rumah Kreatif

10. Bayu D. M. Kusuma – National Geographic Indonesia

11. Soleh Solihun – Stand Up Comedy

12. Eric Wirjanata – Toys

13. Daniel Giovanni – Parkour Jakarta

14. Ocky Nugroho – Broadcast

15. John Tefon – Digital Imaging

Penasaran? Ingin tahu lebih lanjut? Catat detail acaranya dan jangan sampai ketinggalan ya!