Kejutan-kejutan & Dahaga yang Hilang di Pecha Kucha Night Jakarta Vol. 28

Setiap gelaran Pecha Kucha Night Jakarta selalu memberikan kejutan bagi semua orang yang terlibat di dalamnya. Tak terkecuali bagi para panitia, yang sering dikejutkan oleh cara para pembicara menyampaikan presentasinya. Waktu 20 detik bisa jadi dianggap terlalu cepat ataupun terlalu lambat bagi sang presenter. Pembatasan waktu ini menyebabkan banyak sekali improvisasi yang dilakukan para presenter untuk mengisi jeda pada perpindahan slide.

Para presenter di Pecha Kucha Night Jakarta Vol. 28 pun memberikan kejutan-kejutan yang tidak kami sangka. Dari Kiki Moka yang berbicara soal usahanya menemukan pabrik Batavia Arrack – minuman khas Indonesia yang ditemuinya pertama kali di New York- yang hanya berdasarkan buku tentang cocktail, Ade Putri yang menceritakan pengalamannya keramas menggunakan bir, sampai dengan Burhan Abe yang menceritakan tentang prestasi wine produksi Indonesia.

Cerita-cerita unik pun kami dapatkan dari beberapa pembicara lain, antara lain Reza yang berbicara di sesi kedua menjelaskan mengenai asal mulanya menciptakan susu kurma madu, yakni memberi nutrisi untuk istrinya yang sedang mengandung. Ada juga Dhila yang menceritakan mengenai kombucha, sebuah minuman yang menjadi jawaban atas pencariannya akan minuman yang menyehatkan tubuh. Jawaban yang berbeda diperoleh Helga, yang menjadikan jus dan smoothies sebagai pilihan minuman kesehatannya.

Tidak hanya minuman yang unik, minuman yang sudah familiar seperti kopi, teh, dan jamu pun menyimpan kejutan-kejutan. Agam membagikan cerita-cerita mengenai berbagai tempat minum kopi tradisional di Indonesia, di mana dalam salah satu cerita, sang pemilik membuat kopi tanpa memakai baju dan tanpa senyuman, tetapi menyajikan kopi yang sangat khas. Oza menceritakan berbagai fakta tentang teh dan bagaimana cara mencampurnya sehingga tercipta berbagaiaroma khas. Dan tentu saja ada Nova yang memberitahu hal-hal mengenai jamu, seperti bagaimana jamukering terdiri dari 8 bagian tumbuhan,cara membuat jamu,serta cara penyimpanan jamu agar tidak mudah rusak.

Kejutan-kejutan yang dihadirkan pada Pecha Kucha Night Jakarta kali ini kami harapkan dapat menghilangkan dahaga atas pengetahuan tentang minuman dan meningkatkan pembahasan mengenai minuman di percakapan kuliner Indonesia. Kami harap para pembicara dan  cerita-cerita yang disampaikan diharapkan mampu menginspirasi setiap orang yang hadir.

Akhir kata, di tahun 2017 kami berharap untuk dapat menyajikan lebih banyak kejutan dari berbagai topik, serta lebih banyak kesempatan untuk berjejaring. Bagi rekan-rekan yang ingin mendapatkan dokumentasi dari Pecha Kucha Night Vol 28, dapat langsung mengunjungi laman Facebook kami. Kami juga sedang mempersiapkan video presentasi dari para pembicara, dan akan memberikan update terbaru saat sudah selesai.

Terima kasih dan sampai jumpa di Pecha Kucha Night Jakarta Vol. 29 di tahun 2017!

This slideshow requires JavaScript.

Advertisements

Pecha Kucha Night Jakarta Vol. 27 | Better Together

“Kita bisa saja haha hihi sendirian saja di rumah, tapi apa asiknya? Mendingan haha – hihi sendirian atau, punya temen-temen buat haha hihi bersama?” – Aldo Khalid, Founder Order 66

Sebelas komunitas berbagi cerita dan pengalaman mereka di Pecha Kucha Vol. 27 yang diadakan pada tanggal 27 Oktober 2016. Di tengah maraknya komunitas online, kesebelas komunitas yang hadir malam itu memberikan sebuah ruang alternatif untuk berinteraksi langsung, suatu hal yang sangat penting terutama di kota besar seperti Jakarta. Dengan penuh semangat, seluruh komunitas ini berbagi cerita tentang kegiatan dan kesempatan untuk pengembangan diri.

Berikut adalah ringkasan dari presentasi di Pecha Kucha Night Vol. 27

  • Rindradana, founder dari Abuget, menceritakan tentang kesukaannya bermain game yang selalu dianggap remeh oleh orang-orang. Melalui komunitas game Abuget, ia membuat satu wadah untuk para pecinta game agardapat terus bermain di luar kegiatan sehari-hari. Tidak hanya berkumpul bersama, Abuget juga beberapa kali mengadakan perhelatan kompetisi internal hingga mengikuti kompetisi bertaraf internasional.
  • Yusuf Arief, founder dan sekretaris jendral KUTU (Ketika Usia Tak jadi Urusan) Community, menceritakan tentang komunitas skuter ini. KUTU Community terbuka untuk siapapun dari segala usia layak berkendara dan jenis motor skuter apa pun. Komunitas ini berdiri atas dasar kepedulian mereka akan tingginya angka kecelakaan pengendara motor dengan melaksanakan kegiatan edukatif tentang berkendara aman bagi
  • Agus Hasanudin, ketua dan pendiri Komunitas Topi Bambu, bercerita tentang bagaimana komunitasnya membantu pengembangan ekonomi kreatif berbahan dasar bambu di daerah Tangerang. Topi Bambu juga memberikan pelatihan untuk masyarakat dan sekolah untuk membuat kerajinan bambu seperti topi, anyaman dan tas.
  • Amelia Callista adalah founder dari Girls To Go Jakarta yang merupakan komunitas olahraga untuk perempuan. Melalui berbagai kegiatan olahraga, Amel dan rekan-rekannya memberikan inspirasi dan motivasi bahwa perempuan untuk terus berolahraga karena perempuan memiliki kemampuan yang setara dan mampu berkompetisi di bidang yang biasanya didominasi oleh laki-laki.
  • Shelly Ramli, founder dari Zephyr Corgi, bercerita tentang komunitas pecinta anjing jenis Welsh Corgi. Berawal dari kesukaannya terhadap jenis anjing ras ini, ia mengajak pecinta anjing Corgi lainnya untuk berkumpul dalam acara-acara dog show atau sekadar bertukar cerita dalam kegiatan fun seperti jalan-jalan pagi.
  • Erwin dan Fitri dari Kaligrafina berbagi cerita mereka akan perkembangan kaligrafi dan lettering di Indonesia. Tren kaligrafi yang semakin marak mendasari kegiatan mereka untuk memberi edukasi menulis kaligrafi bagi pemula dan sharing session dari para penggiatnya.
  • Indra Pratama dari Komunitas Aleut yang berbasis di Bandung bercerita tentang komunitasnya yang menjadi wadah belajar sejarah dan pelestarian budaya. Kegiatan mereka seperti mengunjungi situs-situs budaya yang kurang dikenal publik dengan berjalan kaki. Selain di Bandung, Indra juga mendirikan komunitas serupa bernama Ngopi Jakarta (NgoJak).
  • Maesy Ang dan Teddy Kusuma, co-founder dari POST Bookshop di Pasar Santa menceritakan tentang toko bukunya yang menyediakan buku dari penulis dan penerbit independen yang sulit ditemukan di toko-toko buku besar, namun memiliki kualitas yang tidak kalah bagusnya. Mereka rutin mengadakan diskusi seputar buku dan seni bersama para penulis dan penerbit buku independen.
  • Aria Dwipa, founder Denger Bareng yang membentuk komunitas ini atas dasar kecintaannya pada musik. Di saat orang-orang mulai menjadikan musik sebagai pendamping kegiatan, ia membuat wadah untuk mengajak orang-orang mengapresiasi musik dengan mendengarkan musik lintas zaman bersama-sama.
  • Farah Mauludynna, founder #BalikLagikeDapur bercerita tentang pentingnya pola hidup sehat melalui clean eating. Maraknya penggunaan bahan pengawet mendorong Dynna untuk mengajak orang-orang kembali memasak. Menurut wanita yang akrab dipanggil Teh Dynna ini, memasak dapat meningkatkan pola hidup sehat dan juga melepas stres.
  • Aldo Khalid, founder dari Order 66,bercerita tentang komunitas pecinta Star Wars. Bersama Order 66, Aldo berpartisipasi dalam berbagai kegiatan seperti Bandung Lights Festival,bahkan sampai turut berpartisipasi dalam konser orkestra bersama Addie MS. Untuk lebih meramaikan kegiatan komunitasnya, Aldo pun mendirikan sebuah perusahaan yang bernama Sinar Saber yang memproduksi replika dari senjata Jedi tersebut.

Berikut adalah beberapa foto dokumentasi dari Pecha Kucha Night Jakarta Vol. 27, lebih lengkapnya foto dokumentasi tersebut dapat diakses di laman Facebook kami di sini

This slideshow requires JavaScript.

Kami ingin berterima kasih kepada ESTUBIZI Co-Working Space selaku partner venue Pecha Kucha Night Jakarta Vol. 27, kepada seluruh pembicara yang sudah berbagi pengalaman dan melakukan showcase, dan tentunya kepada para hadirin yang datang di tengah hujan gerimis yang melanda Jakarta.

Tidak ingin tertinggal event Pecha Kucha Night Jakarta berikutnya? Ikuti terus kabar terbarunya di akun Twitter @pechakuchajkt.

Sampai jumpa di edisi Pecha Kucha Night Jakarta Vol 28 di bulan Desember 2016!