web

[EVENT REPORT] Pecha Kucha Night Jakarta Vol.25 | Let’s Get Physical

Mindfulness adalah ketika pikiran dan tubuh kita sejalan – Adjie Silarus

Pecha Kucha Jakarta kembali lagi dengan edisi ke-25 yang bertemakan Let’s Get Physical pada tanggal 1 Juni 2016 yang lalu. Maverick selaku pemegang lisensi resmi Pecha Kucha Night Jakarta kembali mengadakan acara ini, dengan sebelas pembicara yang hadir berbicara mengenai kegiatan-kegiatan yang mampu mendukung pola hidup sehat mereka, baik melalui kegiatan fisik, mental, ataupun pemilihan diet yang baik. Bertempat di Es Teler 77 Adityawarman, keseruan acara pun tampak dari antusiasme hadirin dalam merepson para pembicara.

Berikut adalah ringkasan dari acara Pecha Kucha Jakarta Vol. 25:

  • FX Mario, seorang praktisi olahraga yang menggeluti gaya hidup sehat, menjelaskan tentang Freeletics, sebuah program latihan yang digagas startup dari Jerman. Mengkombinasikan gerakan-gerakan yang akrab diketahui sejak dini seperti push up, sit up, dan squat, Freeletics ditengarai dapat menjadi solusi untuk yang sering mengaku sibuk untuk berolahraga
  • Handoyo Widya, seorang praktisi tai chi dari Jakarta, menunjukkan bahwa tai chi tidak semata-mata gerakan yang lemah lembut. Seringkali, tai chi diidentikkan dengan olahraga untuk orang yang berusia lanjut. Padahal, tai chi juga sebuah cabang bela diri yang diperlombakan hingga tingkat internasional.
  • Arief Wismoyono, seorang pelari dengan segudang prestasi, salah satunya sebagai orang Indonesia pertama yang menjuarai Mount Rinjani Ultra, di mana Arief mendaki Rinjani selama 13 jam saja, dibandingkan dengan jadwal pendakian standar yang membutuhkan 3 hari 3 malam. Arief menunjukkan alasan mengapa ia memilih menggeluti trail running, cabang olahraga lari yang dilakukan di alam bebas. Di antaranya: keindahan alam, pertemanan, dan pengalaman baru.
  • Masih dari cabang lari, Holip Soekawan dari Indorunners menjelaskan tentang program Lari Untuk Amal Sosial (LUAS). Selain untuk kesehatan, Holip juga menggunakan lari sebagai sebuah sarana untuk menggalang dana. Pada fase ke-empat LUAS ini tujuan akhirnya adalah mencetak 100 sarjana. Pada kesempatan ini Holip juga mengundang setiap orang untuk berpartisipasi.
  • Fitri Tasfiah, seorang guru yoga yang baru menyelesaikan perjalanan ke India, menjelaskan lebih jauh mengenai yoga. Dimulai dengan mengubah pandangan bahwa yoga semata-mata hanya mengenai pose dan postur tubuh, Fitri menjelaskan lebih jauh bahwa Yoga merupakan gabungan dari berbagai faktor seperti pernapasan, ketenangan pikiran, dan fokus.
  • Sebagai pembicara terakhir dari sesi pertama, Vanya Sunanto menjelaskan mengenai gaya hidup sehat berupa paleo diet. Pola makan yang diadaptasi dari gaya hidup manusia purba ini memiliki sederetan pantangan yang tidak boleh dikonsumsi. Vanya juga menjelaskan bagaimana makanan dapat berpengaruh besar terhadap kesehatan.
  • Adjie Silarus membuka sesi kedua dengan penjelasan mengenai mindfulness, sebuah gaya hidup yang menekankan pentingnya ‘presence’atau kesadaran penuh. Adjie menceritakan awal mula mengapa ia menekuni bidang ini, dilanjutkan dengan beberapa metode yang dapat digunakan oleh setiap orang untuk mulai mempraktekkan mindfulness. Menurutnya, mindfulness dapat membantu kita untuk menjalani hidup dengan lebih tenang dan lebih fokus.
  • Sitor Situmorang menjadi pembicara terakhir dari bidang lari, di mana ia menceritakan pengalamannya menyelesaikan Tambora Challenge, sebuah lomba lari sejauh 320 km melintasi Sumbawa. Menurutnya, lari bukan saja dapat menjaga kebugaran, tapi juga dapat menjadi sarana ketahanan tubuh.
  • Dian Martin menarik perhatian hadirin pada malam itu, dengan satu menit penuh mengajak tertawa bersama. Tentu saja, tidak sembarang tertawa. Sebelum tertawa, Dian menunjukkan manfaatnya terlebih dahulu dengan sebuah presentasi, mulai dari melepas stres, meredakan kecemasan (anxiety), hingga membawa manfaat secara fisik.
  • Jika berlari saja sudah melelahkan, maka apa yang dilakukan Chaidir Akbar mungkin bisa dianggap melewati batas. Chaidir menyelesaikan Ironman Triathlon (berenang sejauh 3,8 km, bersepeda sejauh 180 km, dan berlari sejauh 42 km), diawali dengan latihan yang tentu saja tidak main-main. Chaidir mengajak hadirin untuk mulai berolahraga dan terus menantang batas kemampuan.
  • Inandya Citra menutup Pecha Kucha Night Vol. 25 dengan sebuah presentasi mengenai bagaimana olahraga bela diri membuatnya semakin disiplin, dan membuat hidupnya semakin teratur. Sebagai seorang petarung MMA (Mixed Martial Arts), Citra telah berprestasi di dua cabang olah raga berbeda sejak berkuliah di bidang Bio Engineering.

Berikut adalah dokumentasi dari Pecha Kucha Vol. 25: Let’s Get Physical.

This slideshow requires JavaScript.

Untuk melihat dokumentasi selengkapnya, silakan bergabung di Facebook Group Pecha Kucha Jakarta.

Terima kasih kami ucapkan kepada para presenter dan hadirin yang sudah hadir di Pecha Kucha Night Jakarta Vol.25: Let’s Get Physical.

Terima kasih atas dukungan Es Teler 77 Adityawarman sebagai official venue partner Pecha Kucha Night Jakarta Vol.25.

Tidak ingin tertinggal event Pecha Kucha Night Jakarta berikutnya? Ikuti terus kabar terbarunya di akun Twitter @pechakuchajkt.

Sampai jumpa di edisi Pecha Kucha yang akan datang!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s