Catatan dari Pecha Kucha Jakarta 7: Indonesia (Masih) Punya Orang-Orang Muda yang Optimis

“Pak, kenapa gak pindah ke Jakarta aja?”, ujar salah satu hadirin di Es Teler 77 Resto, Adityawarman, ketika acara Pecha Kucha Jakarta, Rabu (3/11) malam kemarin. Pertanyaan tersebut ditujukan kepada Jokowi, Walikota Solo, yang malam itu berhasil membuat seluruh penonton berdecak kagum atas presentasi beliau mengenai perubahan yang telah beliau lakukan terhadap kota Solo. “Target kami, tahun 2015, Solo akan menjadi kota di dalam taman. Tahun 2020, Solo akan menjadi kota di dalam hutan,” ujar Jokowi yang sontak disambut tepuk tangan dari seluruh penonton yang hadir. Setelah mendengarkan kurang lebih 6 menit presentasi Jokowi yang begitu inspiratif, agaknya tidak terlalu berlebihan apabila hampir semua orang yang hadir pada malam hari itu setuju apabila Jokowi diangkat menjadi Gubernur Jakarta.

Selain Jokowi, ada 12 pembicara lain yang hadir malam itu dan mereka semua dari latarbelakang yang berbeda-beda. Ada yang fokus di bidang seni, dunia entertainment, pendidikan, fashion, politik, hingga telekomunikasi. Mereka adalah Pandji Pragiwaksono, Enda Nasution mewakili generasi blogger Indonesia, Joko Anwar sebagai sineas muda Indonesia, Alanda Kariza dari Indonesia Youth Conference, Evi Trisna dari Indonesia Mengajar, Linda Hoemar Abidin dari Yayasan Kelola, Natali Ardianto dari Startup Local Community, Nina dari Nikicio, Sekar Chamdi dari Forum Indonesia Membaca, Kukuh Rizal Arfianto dari Bandung Affairs, Arief Budiman dari National Institute for Democratic Governance (NIDG), dan Andy Sjarief dari SITTI. Namun, di malam Pecha Kucha Jakarta kemarin, mereka hadir dengan satu tujuan: menyampaikan visi mereka tentang Indonesia 2020 melalui 20 slide presentasi dimana masing-masing slide ditampilkan selama 20 detik.

Selain Jokowi, pembicara-pembicara lain juga turut membawa suasana malam itu menjadi meriah dengan tepuk tangan. Alanda Kariza dari Indonesia Youth Conference (IYC) yang berada di urutan pertama menceritakan kegiatan-kegiatan yang dilakukan sebagian anak-anak muda Indonesia yang tergabung dalam organisasi tersebut. Program-program yang dijalankan sungguh beragam, mulai dari kegiatan sosialisasi ke sekolah-sekolah, pemutaran film, seminar, dan lain-lain, semuanya bertujuan untuk memberikan inspirasi sekaligus menyiapkan anak-anak muda Indonesia untuk menjadi pemimpin negeri ini di masa mendatang. Mungkin memang terdengar muluk-muluk, tapi paling tidak mereka sudah mulai berjalan satu atau dua langkah menuju ke tujuan tersebut.

Dunia entertainment diwakili oleh Pandji Pragiwaksono yang malam hari itu berbicara tentang perjalanannya ke daerah-daerah di Indonesia yang selama ini kurang dikenal oleh masyarakat. “Selama ini orang Indonesia lebih sering jalan-jalan ke Singapura untuk belanja atau orang barat yang cuma tahu Bali. Padahal, Indonesia memiliki banyak sekali tempat yang indah-indah,” ujarnya. Tempat-tempat ini menujukkan bahwa Indonesia adalah negara yang sangat sangat kaya. Sebagai penutup, Pandji berharap bahwa di tangan anak-anak muda, Indonesia akan menjadi negara yang bukan hanya mampu bekerja, namun juga berkarya.

Pembicara lain yang juga tidak kalah terkenal dan inspiratifnya adalah Enda Nasution, bapak blogger Indonesia. Ketika pembicara lain menyampaikan presentasi mereka dalam bentuk cerita dan penjelasan, Enda hadir dalam format lain, yaitu puisi. Puisinya pun tidak biasa. Dengan meminjam beberapa istilah yang sering dipakai di dunia teknologi informasi dan social media, Enda mampu menghasilkan sebuah puisi yang jenaka, namun juga menggugah. Pada intinya, dia ingin bercerita bahwa Indonesia di masa mendatang dapat hadir sebagai salah satu negara besar untuk bidang internet.

Bukan bermaksud memberikan kesimpulan, namun hanya sebagai catatan penutup, agaknya tidak terlalu muluk-muluk jika kita katakan bahwa presentasi seluruh pembicara dari acara Pecha Kucha Jakarta kemarin mampu membuka pandangan kita bahwa Indonesia (masih) memiliki generasi muda yang berkualitas dan ditangan merekalah kita dapat menggantungkan harapan akan Indonesia yang lebih baik dan mungkin tidak perlu menunggu sampai tahun 2020.

4 thoughts on “Catatan dari Pecha Kucha Jakarta 7: Indonesia (Masih) Punya Orang-Orang Muda yang Optimis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s